Rumput Laut
Sebagai Bahan Pangan Fungsional
Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka
tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga kian bergeser. Bahan pangan yang kini mulai banyak
diminati bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan cita rasa yang
menarik, tetapi juga memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh. Efeknya, produk pangan eksklusif
berlabel kesehatan pun kian membanjir dan telah merangsang masyarakat untuk mengkonsumsinya.
Sebagai perkembangan lebih lanjut, kini muncul produk pangan yang secara nutrisi telah dimodifikasi, dan secara terbuka dalam labelnya diklaim memiliki khasiat kesehatan tertentu. Produk pangan jenis ini dikenal sebagai makanan fungsional (functional foods). Fungsi-fungsi fisiologis yang diberikan oleh makanan fungsional antara lain menurunkan tekana darah, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, meningkatkan penyerapan kalsium, meningkatkan daya tahan tubuh, memperlambat penuaan, dan lainlain. Sebagai perkembangan lebih lanjut, kini muncul produk pangan yang secara nutrisi telah dimodifikasi,
dan secara terbuka dalam labelnya diklaim memiliki khasiat kesehatan tertentu. Produk pangan jenis ini dikenal sebagai makanan fungsional (functional foods). Fungsi-fungsi fisiologis yang diberikan oleh makanan fungsional antara lain menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, meningkatkan penyerapan kalsium, meningkatkan daya tahan tubuh, memperlambat penuaan, dan lainlain.
Definisi Pangan Fungsional
Istilah pangan fungsional pertama kali dikenalkan di Jepang pada pertengahan 1980an dan merupakan
satu-satunya negara yang mempunyai aturan khusus berkenaan pengolahan pangan fungsional yang diijinkan. Badan yang bertanggungung jawab terhadap pengaturan ini adalah FOSHU (Food for Specified Health Use) dibawah Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Jepang. FOSHU mengistilahkan pangan fungsional sebagai bahan pangan yang berpengaruh positif terhadap kesehatan seseorang, baik jasmani maupun rohani selain kandungan gizi dan cita-rasa yang dimilikinya (Arai 1996 dalam Hasler 1998). Sementara berdasarkan konsensus pada The First International Conference on East-West Perspective on Functional Foods tahun 1996, pangan fungsional adalah pangan yang karena kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, di luar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya.
Dalam regulasi FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat, makanan berdasarkan kategorinya terbagi dalam 2 kelompok yaitu makanan konvensional dan suplemen makanan. Makanan konvensional yang mendukung kesehatan dan diakui sebagai makanan fungsional, produksinya diatur sangat
ketat oleh FDA, terutama berkaitan dengan klaim yang dibuat. Klaim yang disetujui oleh FDA melalui Nutritional Labeling and Education Act of 1990 (NLEA) harus bisa dibuktikan secara ilmiah bahwa unsur yang dipakai benar-benar berpengaruh positif untuk kesehatan. Definisi pangan fungsional menurut Badan POM adalah pangan yang secara alamiah maupun telah melalui proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajiankajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan. Produk tersebut dapat dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen. Selain tidak memberikan kontraindikasi dan tidak memberi efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme zat gizi lainnya.
Berdasarkan atas beberapa definisi yang ada, keberadaan faktor “plus” bagi kesehatan yang diperoleh karena adanya komponen aktif pada bahan pangan tersebut merupakan “keharusan” (Wijaya, 2002). Adapun komponen aktif yang dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu di dalam pangan fungsional adalah senyawa-senyawa alami di luar zat gizi dasar yang terkandung dalam pangan yang bersangkutan, yaitu: (1) serat pangan (dietar y fiber), (2) Oligosakarida, (3) gula alkohol (polyol), (4) asam lemak tidak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acids = PUFA), (5) peptida dan protei tertentu, (6) glikosida dan isoprenoid, (7) polifenol dan isoflavon, (8) kolin dan lesitin, (9) bakteri Rumput Laut Sebagai Bahan Pangan Fungsional Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga kian bergeser. Bahan pangan yang kini mulai banyak diminati bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan cita rasa yang menarik, tetapi juga memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh. Efeknya, produk pangan eksklusif
berlabel kesehatan pun kian membanjir dan telah merangsang masyarakat untuk mengkonsumsinya 4 WPI Edisi September 2010 No.85 asam laktat, (10) phytosterol, dan (11) vitamin dan mineral tertentu.





0 comments:
Posting Komentar